PERPUSNAS DAN KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS SELENGGARAKAN WEBINAR BANGKIT DARI PANDEMI DENGAN LITERASI

Written by Super Admin Wednesday, 17 June 2020 09:13

Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas akan menyelenggarakan webinar dengan tema “Bangkit dari Pandemi dengan Literasi” pada Rabu, 17 Juni 2020 pukul 15.00 WIB.

Webinar berlangsung melalui aplikasi telekonferensi zoom dengan kuota peserta mencapai 1.000 orang. Webinar fokus pada pembahasan isu literasi dalam mendukung pembangunan sosial-ekonomi di masa pandemi dengan pidato kunci oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. Sejumlah narasumber akan memaparkan pokok bahasan yakin Muhammad Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional) Tema: Kenormalan Baru Perpustakaan dan Pemulihan Sosial Ekonomi, Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta) Tema: Literasi untuk Meningkatkan Kualitas SDM dan Kesejahteraan, Helmy Yahya (Praktisi Media) Tema: Literasi Digital dalam Kenormalan Baru, Suprawoto (Bupati Magetan, Jawa Timur) Tema: Penguatan Literasi Daerah untuk Penanggulangan Dampak Covid-19. Syarif Bando menyatakan di era tatanan normal baru, perpustakaan berperan melakukan penguatan literasi sehingga berdampak pada pemulihan sosial-ekonomi.

Perpustakaan telah menjadi ruang publik untuk berbagi pengalaman, belajar secara kontekstual, berbagi pengalaman dan berlatih keterampilan dan kecakapan untuk masyarakat. Peran literasi dalam mewujudkan masyarakat sejahtera sudah dilakukan perpustakaan melalui transformasi layanan berbasis inklusi sosial. Pada 2019, program perpustakaan sebagai tempat beraktivitas pemberdayaan masyarakat telah menjangkau 21 provinsi dan 60 kabupaten dan 300 desa di Indonesia. “Jelang tatanan kenormalan baru, perpustakaan menyiapkan konsep yang selaras dengan kondisi terkini. Sesuai arahan Presiden untuk menyusun tatanan kehidupan baru yang mendukung produktivitas kerja, namun tetap memprioritaskan faktor kesehatan dan keselamatan kerja,” ujar Syarif. Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Hadiat menyatakan ancaman besar Covid-19 bagi kehidupan masyarakat dan perlu menjadi perhatian bersama. Karenanya, memperkuat budaya literasi menjadi salah satu upaya agar bangkit dari keterpurukan. “Hal ini penting karena literasi sebagai bentuk cognitive skills memiliki peran besar dalam upaya pemulihan sosial-ekonomi masyarakat pasca Covid-19,” tuturnya.

Tingkat literasi menentukan kemampuan masyarakat untuk mengidentifikasi, memahami, dan menginterpretasikan informasi yang diperoleh untuk ditransformasikan ke dalam kegiatan-kegiatan produktif yang memberi manfaat sosial, ekonomi, dan kesejahteraan. Aspirasi dari beragam kalangan, baik dari birokrasi, akademisi, dan pegiat literasi, dibutuhkan sebagai masukan dalam perumusan arah kebijakan peningkatan literasi untuk mendukung kenormalan baru perpustakaan dan pemulihan sosial-ekonomi di masa pandemi. Literasi memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan daya saing bangsa. Dalam RPJMN 2020-2024 pembangunan SDM ditempuh melalui 3 (tiga) pilar utama, yaitu: pertama, meningkatkan kualitas layanan dasar dan perlindungan sosial; kedua, meningkatkan produktivitas; dan ketiga, pembangunan karakter melalui revolusi mental dan pembinaan ideologi Pancasila, pemajuan dan pelestarian kebudayaan, moderasi beragama, serta budaya literasi, inovasi, dan kreativitas.

RPJMN 2020-2024 menempatkan literasi sejajar dengan inovasi dan kreativitas sebagai salah satu pilar penting untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju dan berdaya saing. Untuk itu literasi, inovasi dan kreativitas perlu terus dikembangkan di berbagai bidang pembangunan. Upaya penguatan literasi terus dilakukan pemerintah, antara lain: pertama, kebijakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk meningkatkan partisipasi dan pelibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan berbasis literasi; dan kedua, kebijakan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan umum provinsi dan kabupaten-kota; ketiga, mendorong pemanfaatan dana desa untuk pengembangan perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat sebagai pusat pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat; dan keempat, perluasan kegiatan pembudayaan gemar membaca di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar dengan melibatkan para pegiat literasi di daerah.

Reportase: Humas Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas)